SRIKANDI n’ Papie Series 3: TERSESAT DI JALAN PULANG By: Al Faruq Versi Cerpen Edukasi, Motivasi, dan Dakwah

oleh -5 views

SRIKANDI n’ Papie

Series 3: TERSESAT DI JALAN PULANG

By: Al Faruq
Versi Cerpen Edukasi, Motivasi, dan Dakwah

Gerimis tipis sore itu membasahi pelataran parkir sebuah toko waralaba ber-AC di sudut kota. Di teras toko, Andre duduk termenung. Seragam putih-abu-abunya tampak kusam, sewarna dengan langit yang kian menggelap. Kepalanya tertunduk, matanya kosong menatap aspal basah. Sesekali tangannya bergerak gemetar melirik layar ponsel paket datanya habis total.

Bagi Andre, ponsel adalah satu-satunya obat bius untuk kabur dari neraka di rumahnya. Rumah tempat ayahnya, seorang sopir angkot yang suka mabuk, dan ibunya, seorang tiktoker kelas bawah yang gemar menari-nari demi memasarkan produk murah, tidak pernah berhenti menyiksa batinnya. Pertengkaran hebat dan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) adalah tontonan sehari-hari.

Secara psikologis, apa yang dialami Andre adalah bentuk deprivasi emosional—kehilangan ruang aman dan kasih sayang di dalam keluarga. Kondisi stres kronis ini memicu mekanisme pertahanan diri yang salah atau coping mechanism maladaptif. Game Mobile Legends dan taruhan pulsa bersama teman sekolahnya menjadi pelarian instan untuk membunuh duka dan sepi. Namun hari ini, ia kehilangan modal untuk kabur dari realita.

Dari sudut seberang jalan, seorang pemuda berjaket jins dengan senyum misterius mengamati Andre sejak tadi. Ia menyeberang jalan dengan langkah santai, lalu menyapa dengan nada ramah yang agak slengean.
“Mau main game kehabisan paket ya, Dek ..?” tanyanya.
Andre tersentak. Ada rasa sungkan dan curiga, namun ia terpaksa membalas sapaan asing itu. “Iya, Bang,” jawabnya meragu penuh tanya.
Pemuda itu terkekeh. Ia mengeluarkan selembar uang 50 ribu rupiah dari sakunya dan menyodorkannya langsung ke depan wajah Andre. “Ambil saja, jangan takut… Kamu bisa isi paket dan sisanya boleh untuk jajan kok… Gratis benner ..!”

Andre terpedaya oleh kebaikan semu itu. Ia menerima uang tersebut tanpa tahu bahwa lembaran itu adalah umpan pertama dari teknik child grooming, sebuah metode manipulasi psikologis di mana predator mendekati anak-anak yang rapuh demi mendapatkan kepercayaan mereka, sebelum akhirnya diseret masuk ke dalam jaringan gelap narkoba.

Ketika mentari mulai tenggelam, suasana kontras yang menenteramkan jiwa tampak di sebuah rumah lingkungan cluster sederhana namun tenang dan damai. Ba’da Maghrib, dari luar terdengar lantunan indah surah Al-Baqarah yang sedang dibaca oleh Shifa, si Srikandi Bungsu. Di sampingnya, Kakak Ratu menyimak dengan saksama, sementara Sang Mamie mengawasi ketat ketepatan tartil dan tajwid putri bungsunya.
Setelah bacaan Al-Qur’an ditutup dengan syahdu, atmosfer di ruang tengah itu berubah menjadi percakapan kecil yang cukup serius.

“Mamie tahu nggak, ada temen sekolah aku sudah beberapa minggu ini sering bolos. Orang tuanya sudah dipanggil tapi nggak pernah datang. Katanya sih mi, orang tuanya nggak harmonis jadi si Andre itu sering melarikan diri kumpul-kumpul di mana gitu sambil main Game Online lewat HP,” cerita Shifa dengan raut khawatir.

“Ingat ya, Dek ..! Kamu jangan selalu jadi pahlawan kesiangan terus ..! Tugas kamu itu sekolah dan belajar dengan baik dan benar, biar apa yang kamu cita-citakan bisa tercapai. Selebihnya yang bukan urusanmu, jangan diurus… Kebiasaan nehhh..!” ujar Kakak Ratu sambil sedikit judes dan melotot ke arah Shifa adiknya, sembari merapikan mukena yang ia kenakan. Shifa memasang wajah lucu dengan memadukan kedua bola matanya sambil komat-kamit menirukan gerakan bibir Kakak Ratu yang cerewet dengan sangat menggemaskan. Begitu Kakak Ratu menengok, Shifa langsung mengatupkan bibir, memasang wajah polos tanpa dosa, lalu mengedipkan matanya berkali-kali membuat Kakak Ratu urung untuk marah dan malah menahan senyum.

Mamie tersenyum bijak, menyaksikan kedua buah hatinya yang mulai beranjak dewasa, lalu menimpalinya, “Peduli pada sesama itu baik, tapi lebih baik lagi jika kita mendahulukan apa yang menjadi kewajiban diri kita sebagai pertanggungjawaban seorang pelajar… Anak Mamie pasti sudah mengerti dong mana yang menjadi skala prioritas…” ujarnya ditutup dengan senyum yang teduh.

“Ngerti banget dong, Mami Sayang,” sahut Shifa manja sambil menyandarkan kepalanya di bahu Mamie. “Tapi, skala prioritas perut Shifa sekarang adalah makan malam. Dia sudah demo nih, Mi, suaranya sudah merdu mengalahkan tabuhan bedug Maghrib ..!” candanya yang langsung mencairkan suasana.

Sisi lain kehidupan berputar keesokan harinya. Di sebuah lapau tuak dekat pangkalan angkot, Pak Togar ayah Andre sedang asyik bermain gaple di meja lapau bersama kawan sesama sopir angkot lainnya.

Dengan wajah lusuh dan aroma alkohol tuak yang menyengat, ia kembali mengeluh karena harus menerima kekalahan taruhan dari teman sesamanya. Emosinya menyulut ketegangan. Meja digebrak, kursi bergeser kasar. Pak Togar yang sudah setengah mabuk menantang semua orang, hingga situasi memanas dan ia terancam dikeroyok oleh teman-teman main gaplenya yang sudah bersiap melayangkan balok kayu dan botol.

Tepat pada saat kritis itu, sebuah sepeda motor berhenti di depan pangkalan angkot. Pengendaranya adalah Kakak Wiwie. Ia baru saja selesai menurunkan teman kuliah magangnya untuk diantar ke pangkalan tersebut. Melihat ada keributan fisik yang hampir pecah, jiwa kepedulian Kakak Wiwie langsung terusik. Tanpa ragu, ia memarkirkan motornya dan segera berlari ke tengah pusaran konflik.

“Bapak bapak, berhenti ..! Jaga emosi, Abang juga, mundur …! Gak usah pakai otot, selesaikan baik-baik ..!” seru Kakak Wiwie dengan tegas sembari merentangkan kedua tangannya, memisahkan Pak Togar dari kepungan teman-temannya. Kehadiran Kakak Wiwie yang berani dan tak terduga itu berhasil menahan laju amarah para sopir angkot selama beberapa detik krusial, terkesima melihat sosok gadis cantik Imut dengan mata boneka namun bersikap tegas dan lantang yang tiba-tiba bagai turun dari langit dihadapan mereka.

Di saat ketegangan mereda sesaat berkat lerai dari Kakak Wiwie, Ranum adik Andre yang baru kelas tiga SD berjalan persis lewat di depan mereka. Langkah kecilnya terhenti melihat sang ayah yang nyaris babak belur. Sambil menatap ayahnya dari dekat, air mata Ranum luruh. Kakak Wiwie yang melihat bocah itu terkesima dan turut larut dalam suasana pilu. Tak lama beberapa saat segera berjongkok di dekat Ranum untuk merangkulnya.
“Bapak… Ranum diejek sama temen-temen sekolah karena pakai sepatu robek,” tangisnya terisak, sambil menggerak-gerakkan jemari kakinya yang terlihat dari sela-sela robekan sepatu yang dipakainya.
Mendengar ucapan polos bernada pilu dari putrinya, ditambah ketegangan yang baru saja dilerai, Pak Togar seketika terdiam seribu bahasa. Amarahnya runtuh, tergantikan rasa bersalah yang teramat dalam. Kata-kata polos itu menembus kabut alkohol di kepalanya. Ia tersadar sepenuhnya dari mabuk. Setelah mengangguk hormat sebagai tanda terima kasih kepada Kakak Wiwie yang telah mencegah terjadinya pengeroyokan, Pak Togar segera menggandeng Ranum untuk pulang bersama menaiki angkot miliknya diantar pandangan pilu Wiwie. Ada penyesalan yang mulai tumbuh, namun tanpa disadarinya rantai masalah di rumah mereka sudah telanjur menjerat sang anak sulung.

Siang harinya, Shifa yang dijemput sepulang sekolah oleh Kakak Ratu menaiki sepeda motor sudah hampir sampai ke gerbang cluster tempat tinggal mereka. Motor melaju lambat ketika melewati sebuah pos ronda. Di sana, tampak dua orang sedang berbicara sangat serius. Mata tajam Shifa menangkap sosok yang ia kenal di sekolah. Detik itu juga, insting Kenshi-nya bergejolak. Shifa melompat mundur turun dari motor yang sedang berjalan lambat dengan gerakan yang cekatan dan lincah.

“Kak..! Kak..! Kak, berhenti …!!!” teriak Shifa.
“Ada apa lagi sih, Dek ..? Kamu jangan aneh-aneh gitu deh …!!!” keluh Kakak Ratu kesal, namun tetap mengerem motornya perlahan mendekati pintu gerbang cluster. Tanpa menghiraukan kejengkelan kakaknya, Shifa berlari cepat menuju pos ronda dekat lingkungan clusternya tinggal lalu berteriak, “Andre ..! Kamu ngapain di sini ..? Kenapa nggak sekolah tadi ..?!” tanyanya penuh kepedulian namun dengan tatapan tajam penuh selidik ke arah laki-laki didekat Andre saat itu.

Shifa mendekati Andre tepat saat pemuda asing yang ternyata bernama Joni, baru saja memasukkan selembar uang lagi ke saku baju seragam Andre. Joni mendengus kesal melihat kedatangan Shifa, lalu segera berlalu dari situ dengan langkah terburu-buru.
“Dia selalu kasih aku uang paket, Shif. Aku butuh hiburan,” bisik Andre gemetar, menyembunyikan rasa bersalahnya.

Beberapa hari setelah peristiwa di pos ronda itu, situasi berkembang menjadi sangat mengkhawatirkan mendekati bahaya. Suatu sore saat Shifa sedang berbelanja di toko waralaba sekitar area cluster tempatnya les, matanya mendadak menangkap pemandangan yang mencurigakan. Andre tampak sedang dicegat oleh dua orang preman berwajah beringas. Tanpa ampun, Andre dipaksa naik ke atas sepeda motor, berboncengan tiga secara paksa, lalu motor itu melesat cepat menuju ke arah pinggiran kota.

Insting Shifa mengatakan ada yang tidak beres. Tanpa membuang waktu, ia segera membuntuti arah motor tersebut dengan ojek pangkalan yang berada di sekitar itu sambil terus mengunci pandangannya pada target. Di tengah pengejaran yang menegangkan, Shifa spontan menghubungi Papie melalui panggilan darurat.
“Papie..! Ini darurat..! Andre, temen Shifa yang pernah Shifa ceritain, baru saja diculik dan dijemput paksa sama dua preman naik motor bonceng tiga ..!” lapor Shifa cepat dengan nada cemas namun tetap fokus.
Kebetulan yang sangat krusial terjadi. Hari itu, Papie baru saja menyelesaikan rapat penting dengan klien hukumnya di sekitar wilayah tersebut. “Shif, Papie persis berada di dekat area itu ..! Kirimkan titik lokasimu sekarang. Jangan bertindak gegabah sendirian, tunggu Papie datang ..!” instruksi Papie tegas.

Sambil mengikuti laju pergerakan mereka, Shifa standby menunggu kehadiran Papie dengan harap-harap cemas. Papie yang merupakan Advokat senior dan petualang yang cukup diperhitungkan di masa muda, langsung menggunakan jaringan hukumnya untuk menghubungi pihak kepolisian. Bersama-sama, Shifa dan Papie mengintai pergerakan para pelaku dari jarak aman, menuntun aparat penegak hukum menuju titik koordinat persembunyian komplotan tersebut.

Pengintaian itu berakhir di sebuah gudang tua sepi dekat terminal. Andre berdiri gemetar di tengah ruangan yang remang dan berdebu setelah diseret masuk. Di depannya, Joni bersama anak buahnya menatapnya bengis dengan sebilah belati berkilat. Andre menangis tersedu-sedu; ia baru sadar paket kopi yang ia bawa selama ini ternyata berisi sabu-sabu, dan ia ingin berhenti.
“Sekali masuk lingkaran kami, pilihannya cuma dua: lanjut kirim, atau lu mati di got ..!” gertak Joni sambil mengacungkan belati ke leher Andre.

Brakkk..!!!
Pintu kayu gudang tua itu hancur berantakan dihantam tendangan keras Sang Papie tepat bersamaan munculnya Srikandi n’ Papie. Debu mengepul ke udara, menyingkap dua sosok yang berdiri kokoh di ambang pintu dalam sikap siaga penuh. Shifa berdiri mendampingi Papie yang maju penuh wibawa dengan kepastian gambaran sosok yang tangguh di masa mudanya.

“Lepaskan anak itu..! Hukum tidak akan pernah membiarkan kalian merusak masa depan anak bangsa..!” seru Papie dengan suara menggelegar.
“Heh..! Cari mati kalian..! Jangan sok jadi pahlawan ya bro …Habisi mereka..!” perintah Joni murka.

Tiga preman langsung merangsek maju membawa balok kayu dan pipa besi. Aksi laga sengit berbasis kombinasi teknik Goho (metode keras) dan Juho (metode lunak) dari Shorinji Kempo tak terhindarkan.
Shifa bergerak secepat kilat memasang kuda-kuda Kaisoku chudan-gamae. Preman pertama mengayunkan balok kayu ke arah pelipisnya. Shifa menerapkan gerak elakan lateral Uchi-taigi, membiarkan kayu berdesing di udara kosong, lalu dengan momentum berputar ia meluncurkan counter-attack berupa pukulan lurus Gyaku-zuki tepat ke ulu hati (suigetsu) lawan pertama. Buakk..! Preman itu langsung roboh memuntahkan isi perutnya.

Preman kedua mencoba menebas dengan pipa besi dari arah samping. Shifa menerapkan pertahanan Bogi dengan tangkisan Uchi-uke untuk membelokkan lengan lawan, lalu secara simultan menyusup masuk ke dalam ruang gerak musuh. Memanfaatkan teknik Juho kelas tinggi, Shifa menyergap pergelangan tangan penyerang dengan kuncian Gyakute-nage (lipatan balik pergelangan tangan). Krek ..! Sendi lawan terkunci seketika, membuat pipa besi terlepas dan preman kedua jatuh berlutut mengerang kesakitan.

Joni yang melihat anak buahnya tumbang mulai panik. Ia mengacungkan belati, bersiap menusuk Andre sebagai sandera. Namun, Papie melangkah maju dengan tenang namun mematikan. Hanya dengan satu sapuan kaki rendah (Ashibarai) dikombinasikan dengan dorongan telapak tangan (Shuto-uchi), Joni langsung terhempas ke lantai. Belatinya terlempar jauh.
Bersamaan dengan itu, sirine mobil polisi meraih-raung di luar gudang. Tim buser merangsek masuk dan langsung memborgol Joni serta komplotannya. Andre yang menangis ketakutan segera didekap hangat oleh Papie disaksikan haru Shifa.

Di dalam mobil polisi menuju markas untuk pemeriksaan, Papie merangkul pundak Andre yang masih terguncang. Sebagai Advokat senior, Papie memberikan edukasi hukum dan psikologi yang mencerahkan.
“Andre, dengar Oom. Kamu diancam Joni bahwa sekali masuk tidak bisa keluar, kan ..? Itu bohong. Berdasarkan KUHP Baru (UU No. 1 Tahun 2023) yang mengedepankan asas restorative justice (keadilan restoratif), serta UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, posisimu adalah korban eksploitasi anak. Karena kamu dijebak dan berada di bawah ancaman kekerasan (overmacht atau daya paksa), kamu tidak dapat dipersalahkan sepenuhnya, apa lagi sampai dipenjara. Hukum pidana kekinian melindungi anak-anak sepertimu untuk mendapatkan rehabilitasi medis dan sosial agar bisa kembali sekolah.”

Papie juga menambahkan bahwa dalam kasus ini, Joni akan dijerat pasal berlapis. Dalam KUHP Baru Pasal 425, tindakan membujuk, menggerakkan, atau melibatkan anak dalam tindak pidana diancam dengan pemberatan hukuman sepertiga lebih berat dari ancaman aslinya.
Papie menatap Andre dengan senyum teduh, menyisipkan pesan dakwah yang menyentuh hati. “Andre, Allah mengingatkan kita dalam Surat At-Tahrim ayat 6: ‘Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.’ Rantai penderitaan dan kesalahan di rumahmu harus putus di kamu. Kamu adalah anak sulung, teladan bagi adikmu Ranum.”

Shifa juga yang terbawa suasana, kemudian mengutip sebuah hadis riwayat Imam Al-Bukhari yang menjadi tamparan sekaligus motivasi spiritual bagi Andre:

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban…”
“Kamu adalah pemimpin bagi dirimu sendiri dan pelindung bagi adikmu, Ndre. Jangan biarkan masa lalumu menentukan masa depanmu,” lanjut Shifa menguatkan.

“Lagian, kalau kamu sampai kenapa-napa, nanti siapa yang mau jadi partner andalan push rank Mobile Legends-ku ..? Masa aku harus ngajak Papie ..? Yang ada Papie malah bingung nyari tombol buat ‘palu hakim’ di layar HP,” goda Shifa sambil mengedipkan sebelah matanya jenaka. Andre yang awalnya tegang dan menangis seketika menyemburkan tawa kecil karena sifat menggemaskan Shifa. Suasana di dalam mobil polisi yang kaku pun berubah menjadi sangat hangat dan menenangkan.

Tiga Bulan Kemudian…
Suasana di depan rumah Andre tampak jauh berbeda. Tidak ada lagi suara makian atau aroma tuak yang pekat. Intervensi hukum dari Papie tidak hanya menyelamatkan Andre melalui program rehabilitasi dan pembersihan nama baik di sekolah, tetapi juga memberikan efek jera sekaligus kesadaran baru bagi orang tuanya.
Pak Togar, yang sempat diperiksa sebagai saksi dan mendapat teguran keras mengenai tanggung jawab nafkah anak, benar-benar bertobat. Ia kini rutin menghadiri kajian di masjid cluster tempat Papie tinggal dan fokus menarik angkot dengan jujur demi keluarga.

Sementara sang ibu mulai berhijab dan menggunakan akun media sosialnya secara positif untuk berjualan kue rumahan melalui siaran langsung, bukan lagi berjoget tanpa arah dan memprihatinkan untuk ukuran wanita seusianya.

Sore itu, Andre berjalan gagah mengenakan seragam putih-abu-abunya yang bersih dan rapi. Di sampingnya, Ranum melompat-lompat riang dengan sepatu baru yang kokoh, tidak ada lagi jemari kaki yang mengintip dari robekan.
Dari kejauhan, di dalam mobil yang melintas pelan, Shifa, Kakak Ratu, dan Papie tersenyum menyaksikan pemandangan tersebut.
“Tuh lihat, Andre sudah ceria lagi sekarang,” ucap Kakak Ratu bangga.

“Iya, Kak ..! Dan sebagai bentuk rasa syukur atas misi pahlawan kita yang telah sukses, bagaimana kalau kita merayakannya dengan beli es krim di depan ..?” sahut Shifa sambil merapatkan kedua tangannya di depan dada, memasang muka puppy eyes paling imut andalannya ke arah Papie. Papie hanya bisa menggosok-gosok hijab putri bungsunya itu dengan gemas sambil tertawa.

Andre yang sempat tersesat di jalan pulang, kini telah benar-benar menemukan jalan pulangnya yang hakiki jalan yang dipenuhi cahaya ilmu, hukum yang adil, kehangatan keluarga, dan rida Ilahi.