Membuka Tabir ‘Ijazah Jokowi’: Wilson Lalengke Titip Buku Refleksi untuk Mantan Presiden Joko Widodo

oleh -13 views

Jakarta

Pusaran kontroversi mengenai keaslian ijazah Universitas Gadjah Mada (UGM) milik Joko Widodo terus menggelinding dan menyita perhatian publik. Di tengah riuh-rendah perdebatan tersebut, Ketua Umum PPWI, Wilson Lalengke, mengambil langkah literer persuasif dengan membagikan buku karyanya bertajuk *Ijazah Jokowi: Pertaruhan Moralitas Bangsa dan Refleksi Kejujuran (Sebuah Renungan Filosofis)*.

Menariknya, selain telah diserahkan kepada berbagai tokoh publik, termasuk ke dokter Tifauzia Tyassuma yang diperkarakan terkait ijazah Jokowi, buku ini juga diserahkan kepada dua figur penting yang secara langsung maupun tidak langsung berkelindan dengan perjalanan politik sang mantan Presiden, yakni Partono dan Iwan Piliang. Mereka berdua adalah sahabat karib sang penulis sejak lama; Partono adalah sesama penerima beasiswa Ford Foundation, Iwan Piliang sesama penulis dan aktif di organisasi PPWI.

*Benang Merah Perjalanan Politik Jokowi*

Wilson Lalengke memandang Partono dan Iwan Piliang sebagai dua tokoh yang memiliki andil dan peran strategis dalam kesuksesan karier politik Jokowi, baik saat merebut kursi DKI-1 pada Pemilihan Gubernur Jakarta 2012 maupun dalam Pemilihan Presiden 2014 dan 2019. Posisi mereka dalam lesatan karir Jokowi memang berbeda, dan keduanya tidak saling mengenal.

Iwan Piliang merupakan salah satu motor penggerak dalam tim sukses yang mengantarkan pasangan Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) memenangkan Pilgub DKI Jakarta tahun 2012, sebuah momentum yang melambungkan nama Jokowi ke kancah nasional hingga akhirnya memenangkan Pilpres 2014. Sementara itu, Partono memiliki kedekatan historis dan institusional dengan lanskap politik ibu kota selaku mantan anggota Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) DKI Jakarta untuk periode 2018–2023.

Buku tersebut diserahkan oleh Wilson Lalengke pada waktu dan tempat yang berbeda. Partono menerima buku ini terlebih dahulu pada hari Kamis, 25 Juni 2026, di kantornya Lantai 6 Gedung Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Jakarta. Berselang seminggu kemudian, tepatnya pada Sabtu, 4 Juli 2026, giliran Iwan Piliang yang menerima buku bernuansa reflektif tersebut di sebuah restoran di Jakarta Pusat.

Momentum pertemuan dengan Iwan Piliang tidak disia-siakan oleh Wilson Lalengke. Melalui kedekatan yang dimiliki Iwan, lulusan pasca sarjana bidang Global Ethics dan Birmingham University, Inggris, itu secara khusus menitipkan satu eksemplar buku Ijazah Jokowi untuk disampaikan langsung ke tangan mantan Presiden Republik Indonesia tersebut.

*Harapan Wilson Lalengke terhadap Jokowi*

Melalui perantara Iwan Piliang, Wilson Lalengke menaruh harapan besar agar buku tersebut benar-benar sampai dan dibaca oleh mantan orang nomor satu Indonesia asal Solo, Joko Widodo. Terlepas dari segala kegaduhan, polemik hukum, dan sentimen politik yang saat ini tengah membara, mantan dosen paruh waktu Universitas Bina Nusantara Jakarta ini berharap Jokowi bersedia meluangkan waktu untuk membaca, meresapi, dan merenungkan setiap lembar analisis di dalamnya.

Buku ini dirancang bukan sebagai alat pemukul politik, melainkan sebagai media kontemplasi diri _(self-reflection)_. Wilson Lalengke menginginkan agar isi buku tersebut memicu kesadaran moral bagi Jokowi dan semua pihak untuk melakukan sesuatu yang bermakna, jujur, rendah hati dan berani demi menjaga integritas, moralitas, serta kepentingan besar bangsa Indonesia di masa depan.

Secara filosofis, penyerahan buku ini menyentuh esensi terdalam dari kebajikan moral manusia. Filsuf Yunani Kuno, Diogenes (412-323 SM) dari Sinope, terkenal dengan kisah berjalannya di siang bolong membawa lentera menyala demi mencari “manusia yang jujur”. Bagi Diogenes, kejujuran adalah mata uang universal yang paling berharga karena ia tidak bisa dipalsukan oleh status ataupun kekuasaan.

Dalam konteks kepemimpinan, filsuf Romawi Marcus Aurelius (121-180) dalam karyanya _Meditations_ menulis bahwa seorang pemimpin harus selalu memeriksa jiwanya sendiri dan memastikan tindakan-tindakan masa lalunya selaras dengan kebenaran alam semesta. Ketika sebuah isu moral seperti kejujuran akademik mencuat ke permukaan, filsafat Stoikisme (pengendalian emosi negatif) mengajarkan bahwa ketenangan sejati hanya akan diperoleh ketika seseorang berani berhadapan dengan kebenaran objektif, tanpa topeng pencitraan.

Titipan buku dari Wilson Lalengke melalui Iwan Piliang dan Partono pada pertengahan tahun 2026 ini pada akhirnya menjadi sebuah ujian filsafat yang praktis bagi Joko Widodo: apakah sang mantan pemimpin Indonesia ini bersedia menatap cermin kejujuran demi warisan sejarah _(legacy)_ yang bersih bagi anak cucu bangsa, atau memilih untuk tetap tunduk pada ego yang membelenggunya? (TIM/Red)