Menjaga Gerbang, Menjaga Mimpi: Refleksi Kehidupan oleh Praktisi Hukum H. Alfan Sari, SH, MH, MM

oleh -19 views

Jakarta

Setiap manusia memiliki titik awal yang berbeda. Ada yang memulai perjalanan dari ruang yang nyaman, ada pula yang harus berjuang dari tempat yang bahkan sering luput dari perhatian. Namun sejarah selalu membuktikan bahwa masa depan tidak ditentukan oleh tempat seseorang berdiri hari ini, melainkan oleh keberanian untuk melangkah menuju kehidupan yang lebih baik.

Puluhan tahun silam, seorang petugas keamanan menjalani hari-harinya dengan disiplin. Ia membuka gerbang saat fajar menyingsing, mengawasi lingkungan ketika terik matahari membakar, hingga berjaga di tengah sunyinya malam. Seragam biru tua yang dikenakannya menjadi simbol tanggung jawab, sementara pos jaga menjadi saksi bisu perjalanan panjang hidupnya.

Di balik rutinitas yang tampak biasa, tersimpan mimpi yang luar biasa. Ketika banyak orang memilih beristirahat setelah bekerja, ia justru membuka buku-buku hukum, mempelajari pasal demi pasal, dan mengisi malam dengan belajar. Waktu luang bukan dihabiskan untuk mengeluh, melainkan dijadikan kesempatan untuk memperbaiki masa depan.

Baginya, pekerjaan sebagai petugas keamanan bukanlah akhir perjalanan, melainkan pijakan awal menuju cita-cita yang lebih besar. Ia memahami bahwa perubahan hidup tidak pernah datang dengan sendirinya. Perubahan harus diperjuangkan dengan keberanian, disiplin, pengorbanan, dan kesabaran.

Lebih dari sekadar mengejar gelar akademik, perjuangan itu lahir dari sebuah tekad mulia sebagai kepala keluarga. Ia ingin memutus rantai keterbatasan dan membuka jalan yang lebih baik bagi generasi penerusnya. Pendidikan dipandang sebagai investasi paling berharga yang tidak akan pernah habis dimakan zaman.

Perjalanan itu tentu tidak mudah. Lelah menjadi teman sehari-hari. Waktu istirahat berkurang, tenaga terkuras, dan tidak sedikit keraguan yang datang menghampiri. Namun setiap tantangan dijawab dengan keyakinan bahwa tidak ada keberhasilan tanpa pengorbanan.

Di balik ikhtiar yang tampak oleh manusia, ada doa yang terus dipanjatkan kepada Allah SWT. Sepertiga malam menjadi ruang dialog yang sunyi antara seorang hamba dengan Rabb-nya. Setiap langkah belajar diawali dengan doa, setiap kelelahan ditutup dengan sujud, dan setiap harapan disandarkan kepada pertolongan Allah.

Ia meyakini firman Allah SWT:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat tersebut menjadi kompas kehidupan. Bahwa doa harus berjalan berdampingan dengan usaha, dan ikhtiar harus disertai kesabaran serta keikhlasan.

Hari yang dinantikan akhirnya tiba. Dengan mengenakan toga, ia melangkah menuju podium wisuda. Bagi sebagian orang, momen itu hanyalah prosesi akademik. Namun bagi dirinya dan keluarga, wisuda adalah bukti bahwa pengorbanan bertahun-tahun tidak pernah sia-sia.

Di sampingnya berdiri seorang istri yang setia mendampingi dalam suka maupun duka. Hadir pula anak-anak yang menjadi alasan terbesar mengapa ia tidak pernah menyerah. Pelukan hangat kepada buah hati di hari wisuda bukan sekadar ungkapan kasih sayang, melainkan simbol bahwa seluruh perjuangan itu dipersembahkan untuk masa depan mereka.

Perjalanan hidup kemudian membawanya memasuki dunia hukum sebagai seorang advokat. Pengalaman panjang menempa dirinya untuk memahami bahwa keadilan bukan hanya soal pasal dan peraturan, tetapi juga tentang keberanian membela kebenaran, menjaga integritas, dan mengutamakan kemanusiaan.

Pengalaman hidup dari bawah justru menjadi kekuatan yang membentuk karakter. Ia belajar bahwa setiap orang memiliki hak untuk memperoleh kesempatan yang sama, dan setiap perjuangan yang dilakukan dengan cara yang benar akan menemukan jalannya sendiri.

Kini, sebagai Praktisi Hukum, H. Alfan Sari, SH, MH, MM, memandang perjalanan tersebut bukan sebagai kisah tentang kesuksesan pribadi, melainkan sebagai pengingat bahwa kehidupan selalu menyediakan peluang bagi siapa saja yang mau belajar, bekerja keras, menjaga kejujuran, dan tidak pernah berhenti berdoa.

Nilai kehidupan yang dapat dipetik dari perjalanan ini sangat sederhana namun mendalam. Jangan pernah merasa rendah karena pekerjaan yang sedang dijalani. Bekerjalah dengan kehormatan, belajarlah tanpa mengenal usia, hormatilah orang tua, cintailah keluarga, dan libatkan Allah SWT dalam setiap langkah kehidupan.

Karena pada akhirnya, yang mengangkat derajat manusia bukanlah seragam yang dikenakan, bukan pula jabatan yang disandang, melainkan akhlak, ilmu pengetahuan, integritas, serta manfaat yang mampu diberikan kepada sesama.

Setiap orang memiliki kesempatan untuk mengubah jalan hidupnya. Selama masih ada kemauan untuk belajar, keberanian untuk berjuang, dan keyakinan kepada Allah SWT, tidak ada mimpi yang terlalu tinggi untuk diraih.

Sebab masa depan tidak ditentukan oleh dari mana kita memulai, tetapi oleh sejauh mana kita bersedia berjuang untuk mengakhirinya dengan kemuliaan. (rls/Tim Redaksi PPWI)